Friday, November 18, 2005

Indikator Sistem Inovasi Teknologi

Nowdays the world competitivenes are very tight so to compete, a country have to inovate. By doing inovation, a country can improve it’s ability and power. There are many analyst have classify the indicator of inovation which include human capital, budgeting, and any other activities related to inovation. The next step is that evaluate the outcome and the affect by doing those inovation avtivities, weather its enough or it have to be improve in the next following years.


Demokrasi yang menjiwai otonomi daerah memberikan keleluasaan dan kemandirian kepada setiap daerah untuk menentukan arah, prioritas dan kerangka kebijakan yang dianggap paling sesuai bagi daerah. Proses demokrasi ini terkait erat dengan perbaikan partisipasi masyarakat dan proses pembelajaran para pembuat kebijakan dan pihak yang berkepentingan dalam proses kebijakan inovasi di daerah. Di lain pihak, terdapat beberapa kecenderungan pergeseran dalam kebijakan inovasi (Taufik, 2005), antara lain (1) pergeseran dari pembuat (penentu) kebijakan secara tunggal ke banyak pihak, (2) proses partisipatif yang melibatkan pihak diluar otoritas pembuat kebijakan, (3) proses kebijakan sebagai proses pembelajaran (learning process), dan (4) semakin pentingnya dimensi daerah/lokal.

Faktor otonomi daerah dan kecenderungan pergeseran tersebut, mendukung koordinasi dalam pembuatan kebijakan inovasi agar tujuan kebijakan dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Tanpa adanya koordinasi tersebut, pusat dan daerah akan menetapkan kebijakan khususnya dalam bidang sistem inovasi secara terpisah sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak efisien dan efektif. Selain itu, tidak adanya koordinasi akan mengakibatkan pandangan daerah bahwa pusat mengintervensi kebijakan lokalnya.
Dengan demikian, diperlukan suatu wadah yang dapat mengakomodir kegiatan koordinasi dalam pembuatan kebijakan tersebut. Perkembangan teknologi informasi saat ini telah memudahkan pembentukan wadah yang dimaksud seperti dalam bentuk internet (seperti yang telah dilakukan tim kebijakan inovasi uni eropa) maupun pembuatan company profile daerah dan pusat mengenai kebijakan inovasi. Dengan adanya informasi yang baik, daerah dan pusat dapat memperoleh pembelajaran dan upaya peningkatan daya saing melalui studi banding terhadap kebijakan inovasi. Sehingga dapat diciptakan kebijakan inovasi yang bermanfaat secara luas.


Analisis awal yang dapat dikemukakan adalah bahwa untuk mengembangkan kegiatan inovasi teknologi di Indonesia, dibutuhkan pembelajaran dan difusi pengetahuan secara detail. Pada tahap awal, sistem inovasi secara nasional yang dibentuk pusat harus di jabarkan dalam kebijakan inovasi oleh masing-masing derah. Untuk itu, diperlukan sistem informasi yang lengkap sehingga daerah dapat menentukan kebijakan sistem inovasi yang tepat dan sesuai dengan karakter lokal. Sebagai contoh adalah arahan kebijakan budaya inovasi yang dibentuk oleh pusat dapat dijabarkan berupa kebijakan lokal pelaksanaan pelatihan mengenai inovasi, mobilisasi siswa sekolah dan insentif biaya untuk kegiatan inovasi.
Dengan demikian, kebijakan inovasi daerah sesuai dan berkontribusi dalam pengembangan sistem inovasi nasional melalui pengembangan potensi lokal masing-masing.

a. Indikator Sistem Inovasi
Untuk saat ini, sistem inovasi Indonesia telah mulai berkembang meskipun ada beberapa fungsi yang belum. Terdapat beberapa indikator yang dikembangkan oleh lembaga luar negeri yang dapat menjelaskan tingkat perkembangan sistem inovasi. Beberapa indikator tersebut adalah :

1. Institute for Management Development (IMD)
Indikator yang dikembangkan oleh IMD adalah kemampuan daya saing suatu negara melalui aspek-aspek yang mempengaruhinya. Aspek-aspek tersebut antara lain kondisi iklim investasi, politik, dan peraturan.

2. World Economic Forum (WEF)
Indikator yang dikembangkan WEF fokus pada kemampuan suatu negara untuk mengembangkan perekonomiannnya. Terdapat dua jenis indikator yang dikembangkan oleh WEF yakni :
a) CGI
Indikator ini menganalisis potensi ekonomi dalam jangka menengah dan panjang dengan tiga gagasan utama yaitu lingkungan ekonomi makro, kualitas kelembagaan publik, dan perkembangan teknologi. Selain itu, indikator ini juga memperhatikan inovasi teknologi dan besar manfaat inovasi teknologi tersebut berdasarkan negara.
b) BCI
Indikator ini menggunakan ukuran daya saing melalui perkembangan produktivitas dan determinan produktivitas dalam bentuk makro, politik, legal, sosial, dan ekonomi mikro. Terdapat dua faktor utama yakni sofistikasi strategi dan operasi perusahaan, dan kualitas lingkungan investasi.
Berdasarkan analisis BCI, Porter menyimpulkan dua hal yakni perbaikan kondisi ekonomi mikro di negara berpendapatan tinggi mempunyai dampak spillover yang positif (perbaikan pada lingkungan bisnis akan mempunyai dampak yang lebih besar jika lingkungan bisnis lain diperbaiki). Kedua, pada negara berpendapatan rendah, spillover sangat rendah karena kelemahan kondisi ekonomi makro, politik, dan legal.
WBI mengembangkan knowledge for tool (K4D) yang dikembangkan untuk memerangi kemiskinan dengan :
a) Policy forum : pengkajian kebijakan inovasi teknologi
b) Policy service : mengembangkan strategi yang konkret untuk sektor ekonomi spesifik
c) Tech net : kelompok tematik badan duna mengenai IPTEK sebagai jaringan bagi para profesional
d) Knowledge ekonomi tool : membantu negara2 untuk melakukan benchmarking terhadap pesaing, dan negara tetangga.

Selain itu, terdapat beberapa manual untuk inovasi teknologi yaitu :
· Frascati Manual : Pengukuran sumber daya penelitian dan pengembangan
· Canbera Manual : Pengukuran SDM IPTEK
· Oslo Manual : Pengukuran aktivitas IPTEK
· TBP Manual : Pengukuran transfer teknologi.

b. Indikator Kapasitas Inovasi
· Definisi
Kemampuan suatu entitas politik dan ekonomi untuk menghasilkan dan mengkomersialisasikan aliran teknologi inovatif dalam jangka panjang. Kapasitas inovasi ini sangat bergantung pada investasi. Kebijakan, dan segala sumber daya lain yang berpotensi menghasilkan inovasi.

· Tiga Elemen Utama Pembentuk Kapasitas Inovatif
Tiga elemen utama pembentuk tersebut adalah :
1. Infrastruktur Umum
Terdiri atas investasi dan kebijakan yang mendukung kegiatan inovasi. Secara detail investasi mencakup sumber daya manusia, sumber dana, kegiatan riset. Sementara kebijakan inovasi mencakup perlindungan terhadap kekayaan intelektual, insentif pajak, peraturan anti monopoli, dan pasar yang terbuka.
2. Lingkungan Spesifik Klaster
Klaster memberikan kesempatan dan kebutuhan untuk melakukan inovasi. Di dalam klaster
3. Kualitas Keterkaitan
Dengan keterkaitan yang erat antara infrastruktur umum dengan klaster industri, diharapkan inovasi yang telah terbangun dapat dikembangkan secara optimal. Selain itu, adanya pihak lain seperti perguruan tinggi, diharapkan dapat mempercepat pengembangan kegiatan ionovasi di dalam kluster.

No comments: